Kisah Lahirnya Pangeran Siddhartha Gautama hingga Mencapai Pencerahan Menjadi Buddha

Avatar photo

- Kontributor

Rabu, 1 Juli 2026 - 07:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi karya AI Pin

Gambar ilustrasi karya AI Pin

SEMARANG | PortalindonesiaNews.Net – Sekitar abad ke-6 hingga ke-5 sebelum Masehi, di Kerajaan Kapilavastu yang berada di kaki Pegunungan Himalaya (kini wilayah Nepal), lahirlah seorang pangeran yang kelak mengubah sejarah dunia. Ia adalah Pangeran Siddhartha Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha, Sang Yang Tercerahkan.

Kelahiran Sang Pangeran

Siddhartha lahir dari pasangan Raja Suddhodana, pemimpin suku Sakya, dan Ratu Mahamaya. Menurut tradisi Buddhis, sebelum melahirkan, Ratu Mahamaya bermimpi seekor gajah putih memasuki rahimnya, yang ditafsirkan para brahmana sebagai pertanda akan lahir seorang anak agung.

Dalam perjalanan menuju kampung halamannya, Ratu Mahamaya melahirkan Siddhartha di Taman Lumbini di bawah pohon sala. Tujuh hari setelah melahirkan, sang ratu wafat, dan Siddhartha kemudian diasuh oleh bibinya, Mahapajapati Gotami.

Seorang pertapa bijaksana bernama Asita meramalkan bahwa Siddhartha akan menjadi seorang raja besar atau seorang guru spiritual yang menerangi dunia.

Masa Muda di Istana

Raja Suddhodana menginginkan putranya menjadi raja yang perkasa. Karena itu, Siddhartha dibesarkan dalam kemewahan istana dan dijauhkan dari segala penderitaan kehidupan.

Pada usia 16 tahun, ia menikah dengan Putri Yasodhara dan dikaruniai seorang putra bernama Rahula.

Namun kehidupan mewah tidak mampu menghilangkan pertanyaan besar dalam hati Siddhartha tentang makna hidup.

Empat Peristiwa yang Mengubah Hidup

Suatu hari, Siddhartha keluar dari istana dan menyaksikan empat pemandangan yang mengubah jalan hidupnya:

  • Seorang tua renta.
  • Seorang yang sakit parah.
  • Jenazah yang sedang diarak.
  • Seorang pertapa yang tampak damai.

Ia menyadari bahwa setiap manusia pasti mengalami usia tua, sakit, dan kematian. Kesadaran itu membuatnya mencari jalan agar manusia terbebas dari penderitaan.

READ  Desakan Publik Menggema! Pengusaha Muda Blora Ditabrak Pengendara Diduga Mabuk, Pelaku Masih Bebas – Polisi Diminta Bertindak Tegas!

Meninggalkan Istana

Pada usia 29 tahun, Siddhartha meninggalkan istana pada malam hari. Peristiwa ini dikenal sebagai Mahabhiniskramana atau “Pengunduran Agung”. Ia meninggalkan kemewahan, istri, dan anaknya demi mencari kebenaran sejati.

Bertapa Mencari Kebenaran

Selama enam tahun, Siddhartha berguru kepada para pertapa dan menjalani tapa yang sangat keras. Ia hampir tidak makan hingga tubuhnya menjadi sangat kurus.

Akhirnya ia menyadari bahwa menyiksa tubuh bukanlah jalan menuju kebijaksanaan. Ia memilih Jalan Tengah, yaitu menghindari kemewahan maupun penyiksaan diri.

Mencapai Pencerahan

Di bawah Pohon Bodhi di Bodh Gaya, India, Siddhartha duduk bermeditasi dengan tekad tidak akan bangkit sebelum menemukan kebenaran.

Setelah menghadapi berbagai godaan Mara, lambang nafsu dan kegelapan batin, pada usia sekitar 35 tahun ia mencapai pencerahan sempurna.

READ  Mantan Kades Boyolali Menangis Jadi Tersangka Korupsi APBDes Rp 1 Miliar

Sejak saat itu ia dikenal sebagai Buddha Gautama, yang berarti “Yang Tercerahkan”.

Beliau memahami Empat Kebenaran Mulia, yaitu:

  1. Hidup mengandung penderitaan.
  2. Penderitaan berasal dari keinginan dan keterikatan.
  3. Penderitaan dapat diakhiri.
  4. Jalan menuju akhir penderitaan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang menuntun manusia menuju kebijaksanaan, moralitas, dan konsentrasi batin.

Menyebarkan Dharma

Selama sekitar 45 tahun, Buddha mengajarkan Dharma kepada semua kalangan tanpa membedakan kasta, kekayaan, maupun status sosial.

Khotbah pertamanya disampaikan di Taman Rusa Isipatana (Sarnath), yang dikenal sebagai Pemutaran Roda Dharma. Dari sana ajaran Buddha menyebar ke berbagai wilayah Asia dan kemudian ke seluruh dunia.

Wafat dan Mencapai Parinirwana

Pada usia sekitar 80 tahun, Buddha jatuh sakit setelah perjalanan panjang. Di Kusinara (kini Kushinagar, India), beliau berbaring di antara dua pohon sala dan menyampaikan pesan terakhir kepada para muridnya:

“Segala sesuatu yang berkondisi akan mengalami kehancuran. Berjuanglah dengan sungguh-sungguh.”

Beliau kemudian memasuki Parinirwana, yaitu keadaan bebas sepenuhnya dari kelahiran kembali dan seluruh penderitaan.

READ  Dihadiri Ribuan Orang, Perayaan Natal PPD HKBP Distrik X Medan Aceh Berlangsung Meriah dan Penuh Sukacita

Jenazah Buddha dikremasi, dan reliknya dibagikan kepada berbagai kerajaan untuk didirikan stupa sebagai penghormatan.

Warisan Buddha

Ajaran Buddha terus berkembang selama lebih dari 2.500 tahun dan menjadi salah satu agama besar di dunia. Inti ajarannya menekankan kasih sayang, kebijaksanaan, pengendalian diri, tanpa kekerasan, dan pencarian kedamaian batin melalui pemahaman yang benar.

Bagi umat Buddha, Siddhartha Gautama bukan dipandang sebagai dewa, melainkan sebagai manusia yang melalui usaha, meditasi, dan kebijaksanaan berhasil mencapai pencerahan sempurna, sehingga menjadi teladan bagi siapa pun yang ingin menempuh jalan menuju kebebasan dari penderitaan.

Laporan: Iskandar

Berita Terkait

Iswar Apresiasi Pendampingan Mahasiswa  Soegijapranata Catholic University Semarang ke UMKM Bikin Naik Kelas
Kuasa Hukum Diah Iswahyuningsih Sampaikan Hak Jawab atas Pemberitaan Portal Indonesia News
Polrestabes Semarang Sita Lebih dari 10,3 Kilogram Sabu Selama Semester I 2026, Ungkap Jaringan Pengedar hingga DPO
Gebrakan Baru, Aria DIGI dan Jogja IT Com Kolaborasi Dampingi Siswa SMK Koperasi Yogyakarta dalam Program Kewirausahaan
Melalui Seni dan Budaya, Refleksi 125 Tahun Bung Karno Hidupkan Semangat Nasionalisme di Blora
Gebyar Halal dan UMKM Ekraf di Taman Pintar memanfaatkan ramainya wisata keluarga untuk memperkuat ekonomi pelaku usaha lokal.
Setetes Darah untuk Kemanusiaan, Polrestabes Semarang Gelar Donor Darah Sambut Hari Bhayangkara ke-80
Panggung Bintang Menanti! Lomba Menyanyi ‘Bersuara Kita Maju’ Siap Guncang Plaza Ambarrukmo Yogyakarta

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 07:32 WIB

Kisah Lahirnya Pangeran Siddhartha Gautama hingga Mencapai Pencerahan Menjadi Buddha

Rabu, 1 Juli 2026 - 06:56 WIB

Iswar Apresiasi Pendampingan Mahasiswa  Soegijapranata Catholic University Semarang ke UMKM Bikin Naik Kelas

Rabu, 1 Juli 2026 - 04:19 WIB

Kuasa Hukum Diah Iswahyuningsih Sampaikan Hak Jawab atas Pemberitaan Portal Indonesia News

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:11 WIB

Polrestabes Semarang Sita Lebih dari 10,3 Kilogram Sabu Selama Semester I 2026, Ungkap Jaringan Pengedar hingga DPO

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:44 WIB

Gebrakan Baru, Aria DIGI dan Jogja IT Com Kolaborasi Dampingi Siswa SMK Koperasi Yogyakarta dalam Program Kewirausahaan

Selasa, 30 Juni 2026 - 13:55 WIB

Gebyar Halal dan UMKM Ekraf di Taman Pintar memanfaatkan ramainya wisata keluarga untuk memperkuat ekonomi pelaku usaha lokal.

Selasa, 30 Juni 2026 - 13:19 WIB

Setetes Darah untuk Kemanusiaan, Polrestabes Semarang Gelar Donor Darah Sambut Hari Bhayangkara ke-80

Senin, 29 Juni 2026 - 21:43 WIB

Panggung Bintang Menanti! Lomba Menyanyi ‘Bersuara Kita Maju’ Siap Guncang Plaza Ambarrukmo Yogyakarta

Berita Terbaru