JAKARTA | PortalindonesiaNews.Net – Peringatan hari jadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) bukan sekadar seremoni tahunan yang diisi baris-berbaris dan ucapan selamat. Di balik setiap rangkaian acaranya, tersimpan makna mendalam: refleksi panjang tentang pengabdian tanpa batas, loyalitas tanpa syarat, dan semangat juang yang tak pernah padam—bahkan ketika seragam dinas telah dilepas dan masa tugas resmi berakhir.
Hal itu ditegaskan oleh Letkol Inf (Purn). G. Borlak, seorang purnawirawan yang kini tengah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Negeri Jakarta. Dalam catatan refleksinya, ia menegaskan bahwa menjadi bagian dari Korps Komando bukanlah sekadar pekerjaan atau profesi, melainkan jalan hidup dan identitas yang melekat selamanya di dalam dada.
“Ikatan Komando tidak pernah putus, dan pengabdian tidak akan pernah berakhir,” tegasnya.
Ditempa Keras, Lahirkan Prajurit Tangguh
Selama ini, Kopassus dikenal luas sebagai satuan elite Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang selalu berada di garis terdepan. Entah saat menjaga kedaulatan wilayah NKRI, menangani konflik, hingga menjadi garda utama saat bencana alam melanda—kehadiran mereka selalu diharapkan dan diandalkan.
Namun, menurut Borlak, ketangguhan yang dimiliki para prajurit itu bukanlah bakat bawaan atau sesuatu yang instan. Semua terbentuk melalui proses penempaan yang sangat panjang dan berat. Fisik diuji hingga batas ketahanan manusia, mental diasah di bawah tekanan ekstrem, dan karakter diluruskan sedemikian rupa agar tetap berpegang pada kebenaran dan integritas, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.
“Dari situlah lahir sosok prajurit yang tidak hanya kuat dan andal di medan tempur, tapi juga memiliki akhlak dan integritas yang tinggi,” ujarnya.
Tantangan Baru: Bukan Sekadar Perang Senjata
Seiring berjalannya waktu dan perubahan dinamika global, tantangan yang dihadapi bangsa pun bertransformasi. Kini, ancaman tidak lagi sebatas konflik bersenjata atau agresi dari luar. Borlak menyoroti bahwa tantangan masa depan justru banyak datang dari aspek non-militer, seperti krisis iklim, persaingan ketat atas sumber daya alam, hingga dinamika kependudukan yang berpotensi memicu ketidakstabilan sosial dan keamanan.
Kondisi ini menuntut pergeseran pola pikir. Prajurit masa depan tidak cukup hanya andal dalam strategi tempur dan kemampuan taktis semata. Mereka harus memiliki wawasan yang luas, memahami aspek sosial, lingkungan, hingga demografi. Dengan bekal ilmu tersebut, kehadiran Kopassus tidak hanya sebagai kekuatan pengamanan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi menyelesaikan masalah bangsa.
“Medan tempur kini semakin luas dan kompleks. Kita harus siap beradaptasi tanpa kehilangan jati diri,” tegasnya.
Menjaga Nama Besar di Tengah Perubahan
Meski harus terus berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman, ada satu hal mutlak yang tidak boleh berubah: jati diri dan nilai-nilai luhur keprajuritan. Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI disebutnya sebagai fondasi kokoh yang harus terus dijaga oleh seluruh keluarga besar Kopassus, baik yang masih aktif berdinas maupun yang telah memasuki masa purnawirawan.
Citra Kopassus sebagai satuan yang dicintai dan dipercaya rakyat, menurut Borlak, adalah sebuah “harta karun” yang sangat berharga. Aset ini harus terus dirawat dan dijaga melalui sikap yang profesional, modern, namun tetap rendah hati dan dekat dengan masyarakat.
Komando: Identitas Seumur Hidup
Bagi mereka yang pernah merasakan kerasnya pendidikan, lelahnya latihan, dan sunyinya penugasan di tempat terpencil, Kopassus bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia telah menjadi bagian dari darah dan daging, identitas yang melekat sepanjang hayat.
Prinsip “Berani, Benar, Berhasil” bukan sekadar slogan yang tertulis di tembok atau diucapkan saat apel. Bagi insan Komando, ini adalah pedoman hidup yang terus dipegang teguh, bahkan setelah masa dinas resmi berakhir.
Begitu pula dengan semangat kehormatan yang tinggi: “Lebih baik pulang membawa nama harum daripada pulang dalam keadaan gagal.” Ungkapan ini menggambarkan betapa mahalnya nilai martabat dan tanggung jawab yang diemban setiap prajurit.
Pengabdian Tak Pernah Usai
Menjadi purnawirawan bukan berarti pensiun dari pengabdian. Jika saat aktif tugasnya melindungi dari ancaman fisik, kini perannya bergeser menjadi teladan di tengah masyarakat. Para mantan prajurit ini hadir sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan, perekat persatuan, dan penggerak kedamaian di lingkungan tempat tinggalnya.
Di momen istimewa ini, Borlak menyampaikan doa dan harapan agar Kopassus senantiasa menjadi garda terdepan bangsa—tetap profesional, lincah beradaptasi dengan zaman, namun tetap membumi dan dicintai rakyat.
“Teruslah menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia,” tutupnya. Dirgahayu Kopassus. Jayalah selalu, panjang umur pengabdianmu!
Laporan: yulius






