Bentak Pedagang dan Tak Konsisten! Satpol PP Salatiga Dituding Arogan Hadapi PKL Pancasila, Sementara Sembir Dibiarkan Bebas Beroperasi

Avatar photo

- Kontributor

Selasa, 4 November 2025 - 12:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : ketika Audensi Berlangsung 04/11/2025

Foto : ketika Audensi Berlangsung 04/11/2025

Salatiga | PortalIndonesiaNews.Net — Suasana tegang mewarnai pertemuan antara LSM Amanat Penggerak Rakyat Indonesia (APRI) dan Satpol PP Kota Salatiga yang digelar di kantor Satpol PP, Jl. Letjend. Sukowati, Selasa (4/11/2025). Pertemuan yang awalnya diharapkan menjadi ajang musyawarah justru diwarnai nada tinggi dan ketegangan setelah salah satu pejabat Satpol PP diduga membentak pedagang kecil yang hadir.

Insiden ini sontak memicu kemarahan M. Sholeh, Wakil Ketua Umum DPP APRI, yang datang mendampingi para pedagang kaki lima (PKL) Alun-Alun Pancasila. Ia menilai tindakan aparat tersebut tidak mencerminkan sikap aparat penegak perda yang seharusnya melindungi rakyat kecil, bukan malah menekan mereka.

“Kami datang dengan itikad baik untuk dialog, bukan untuk dibentak! PKL ini bukan penjahat, mereka hanya mencari makan. Jangan perlakukan rakyat kecil seperti kriminal,” tegas Sholeh dengan nada kecewa.

Sholeh juga menyoroti sikap arogan dan tidak adil Pemkot serta Satpol PP Salatiga dalam menegakkan aturan. Di satu sisi, pedagang kecil di sekitar Alun-Alun Pancasila dilarang keras berjualan. Namun di sisi lain, area Sembir yang dikenal sebagai kawasan hiburan malam dan tempat maksiat justru dibiarkan beroperasi tanpa tindakan tegas.

READ  Viral! Pasien Diduga Diusir Dokter di Kendal, Kata “Kampret” Muncul Saat Klarifikasi  

“Ironis! PKL yang jual gorengan dikejar-kejar, sementara tempat karaoke dan hiburan malam di Sembir dibiarkan bebas. Kalau begini, keadilan macam apa yang ditegakkan Satpol PP dan Pemkot Salatiga?” sindir Sholeh pedas.

Kepala Bidang Ketertiban Satpol PP, Sutarto, didampingi Kasatpol PP Yayat Hidayat, berkilah bahwa pihaknya hanya menunggu keputusan resmi dari Pemerintah Kota Salatiga. Untuk sementara, pedagang diminta bersabar dan berjualan di sisi kiri alun-alun sampai penataan shelter selesai.

Foto : Kiri seorang Pedagang yang Dibentak ketika Audensi..didampingi M.soleh

Namun jawaban tersebut tak memuaskan para pedagang. Mereka menilai Satpol PP hanya berlindung di balik alasan “menunggu keputusan” tanpa memberikan solusi nyata bagi ratusan pedagang yang menggantungkan hidup di area itu.

“Kalau menunggu terus tanpa kejelasan, siapa yang mau kasih makan keluarga kami? Kami bukan mau melawan, tapi tolong jangan main bentak!” ujar salah satu pedagang yang enggan disebut namanya.

READ  Truk Ekspedisi Terguling di Ungaran Akibat Kurang Konsentrasi, Polisi Imbau Pengemudi Lebih Waspada

Sebelumnya, Dinas Perdagangan Kota Salatiga telah melayangkan undangan rapat koordinasi penataan PKL bernomor 500.3.10/1062 tertanggal 4 November 2025, yang dijadwalkan berlangsung Rabu (5/11/2025). Rapat tersebut rencananya melibatkan unsur dinas, camat, lurah, hingga perwakilan paguyuban pedagang.

Sementara itu, Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.OG, melalui pesan singkat kepada redaksi, meminta agar semua pihak menyelesaikan persoalan secara bijak tanpa bentrokan.

“Semua bisa diselesaikan dengan baik. Tidak perlu bentrok. Mari bicara bersama agar semua pencari nafkah bisa dimobilisasi secara tertib,” ujar Wali Kota Robby.

Meski demikian, publik menilai pernyataan “bijak” tersebut belum cukup menjawab keresahan para pedagang yang kini merasa terpinggirkan. Satpol PP dituding tebang pilih dalam menegakkan aturan—galak terhadap pedagang kecil, tapi diam seribu bahasa terhadap tempat hiburan malam yang justru melanggar norma sosial di tengah kota.

LSM APRI menegaskan akan terus mengawal dan mendampingi PKL Pancasila hingga ada keputusan yang adil dan berpihak pada rakyat kecil.

“Kami tidak akan mundur. Kalau Satpol PP dan Pemkot tidak bisa berlaku adil, kami siap membawa persoalan ini ke ranah hukum dan publik!” tutup Sholeh tegas.

Red/Eko L

Berita Terkait

Rangkap Jabatan Perangkat Desa Jadi Wartawan di Blora: Etika Profesi atau Pelanggaran Hukum?
Kedok Terbongkar! Oknum Sipir Rutan Kebumen Tak Berkutik, Akui Aniaya Tahanan Perempuan di Tengah Pusaran Pungli
Diduga Masuk HGB Developer Bukit Bulusan, Warga Banyumanik 8 Tahun Gagal Sertifikatkan Tanah
Progres Pembangunan Gudang KDKMP di Semarang dan Salatiga Capai 60 Persen, Target Selesai Tepat Waktu
Puncak Grand Opening Imperial Digital Printing: Mengusung Kreativitas Tanpa Batas Lewat Teknologi Cetak Terbaru
SKANDAL KEAMANAN: PT Mulya Jati Utami Tegal Diduga Bodong, Kok Bisa Dipakai Instansi Pemerintah?  
Setengah Tahun Tanpa Kepastian: Pomdam IV/Diponegoro Diduga Lamban Tangani Kasus Oknum TNI BBM Ilegal
Viral! Pasien Diduga Diusir Dokter di Kendal, Kata “Kampret” Muncul Saat Klarifikasi  

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 01:08 WIB

Rangkap Jabatan Perangkat Desa Jadi Wartawan di Blora: Etika Profesi atau Pelanggaran Hukum?

Selasa, 20 Januari 2026 - 20:42 WIB

Kedok Terbongkar! Oknum Sipir Rutan Kebumen Tak Berkutik, Akui Aniaya Tahanan Perempuan di Tengah Pusaran Pungli

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:24 WIB

Diduga Masuk HGB Developer Bukit Bulusan, Warga Banyumanik 8 Tahun Gagal Sertifikatkan Tanah

Sabtu, 17 Januari 2026 - 23:09 WIB

Progres Pembangunan Gudang KDKMP di Semarang dan Salatiga Capai 60 Persen, Target Selesai Tepat Waktu

Sabtu, 17 Januari 2026 - 20:24 WIB

Puncak Grand Opening Imperial Digital Printing: Mengusung Kreativitas Tanpa Batas Lewat Teknologi Cetak Terbaru

Jumat, 16 Januari 2026 - 18:06 WIB

Setengah Tahun Tanpa Kepastian: Pomdam IV/Diponegoro Diduga Lamban Tangani Kasus Oknum TNI BBM Ilegal

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:37 WIB

Viral! Pasien Diduga Diusir Dokter di Kendal, Kata “Kampret” Muncul Saat Klarifikasi  

Kamis, 15 Januari 2026 - 01:17 WIB

SDN 1 Samirono Jadi Pusat Inspirasi: Siswa SMA Plus Islamic Village Tangerang Gelar Aksi Mengajar dan Kompetisi Kreatif

Berita Terbaru