jakarta | Portalindonesianews.net,, Dunia pendidikan tinggi global sedang berada di ambang transformasi paling drastis dalam beberapa dekade terakhir.
Sinyal kuat ini datang dari China. Sebagai negara yang selama ini dikenal sangat agresif membangun kekuatan teknologi, manufaktur, dan riset, China justru mengambil langkah ekstrem: memangkas ratusan jurusan kuliah lama yang dianggap tidak lagi selaras dengan kebutuhan industri masa depan.
Salah satu kasus paling mencolok terjadi di Sichuan University, yang pada tahun 2024 mengumumkan penghentian 31 program studi sekaligus.
Langkah ini bukan kasus tunggal, melainkan potret kecil dari restrukturisasi pendidikan nasional berskala masif.
Menurut laporan Sixth Tone, sepanjang tahun 2024 terdapat 19 universitas di China yang menghentikan total 99 program studi.
Bahkan, Kementerian Pendidikan China mengonfirmasi telah menghapus sekitar 1.670 program studi.
Menariknya, di saat yang sama, mereka langsung membuka 1.673 program baru yang dinilai lebih relevan dengan arah ekonomi masa depan.
*Bukan Jurusan “Lemah”, Melainkan Masalah Relevansi*
Banyak orang berasumsi bahwa jurusan yang ditutup adalah program studi sepi peminat atau berkinerja buruk.
Nyatanya tidak.
Banyak program yang dihentikan justru berasal dari bidang sains, teknik, dan industri yang dahulu dianggap sangat strategis.
Beberapa jurusan teknik konvensional yang terkena dampak penghapusan antara lain, Teknik Metalurgi, Teknik Tekstil, dan Teknik Lingkungan
Teknik Hidrologi dan Sumber Daya Air,
Teknik Keamanan (Safety Engineering),
Teknik Jaringan dan Information Security
Electronic Science and Technology
Bioteknologi, Fisika Nuklir, serta Fisika Material dan Kimia Material.
Di ranah bisnis, sosial, dan seni kreatif, efisiensi juga terjadi pada jurusan seperti Administrasi Publik, Asuransi, E-Commerce, Information Management, Animasi, Penyiaran Televisi, hingga Seni Pertunjukan.
Langkah berani ini memperlihatkan sudut pandang baru, masalah utama bukan lagi sekadar “jurusan itu bagus atau tidak”, melainkan apakah kompetensi yang diajarkan masih kompatibel dengan ekosistem ekonomi baru yang berbasis pada kecerdasan buatan (AI), otomasi, digitalisasi, green economy, dan industrial intelligence.
*Pergeseran Mesin Produksi SDM, Menuju Intelligence Economy*
Selama puluhan tahun, China membangun dominasi ekonominya lewat pendidikan massal berbasis teknik dan manufaktur konvensional. Namun, ketika dunia bergeser dari era Knowledge Economy (ekonomi berbasis pengetahuan) menuju Intelligence Economy (ekonomi berbasis kecerdasan), cetak biru SDM mereka pun ikut diubah.
Pada era terdahulu, universitas cukup melahirkan lulusan yang menghafal teori dan memahami prosedur kerja.
Di era AI, kemampuan prosedural seperti itu sangat mudah digantikan oleh mesin.
Oleh karena itu, China mulai menutup program-program yang lulusannya sudah berlebih, memiliki angka pengangguran tinggi, atau perannya mudah diotomasi. Sebagai gantinya, mereka membuka keran bagi jurusan masa depan, seperti, Artificial Intelligence (AI) & Industrial AI
, Intelligent Manufacturing & Robotics, Data Science & Quantum Information, New Energy Engineering & Low Carbon Technology, Smart Agriculture & Digital Economy, Smart Transportation & Cyber-Physical Systems.
Fokus pendidikan di China tidak lagi sekadar mencetak sarjana demi angka statistik, melainkan memproduksi tenaga kerja yang langsung klop dengan arah transformasi industri nasional mereka.
“Alarm Keras untuk Perguruan Tinggi di Indonesia”
Fenomena radikal di China ini seharusnya menjadi peringatan dini bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
Saat ini, banyak kampus di tanah air yang masih mengandalkan struktur kurikulum yang dirancang untuk kebutuhan industri 20 hingga 30 tahun lalu. Sementara itu, dunia kerja di luar sana melesat dengan kecepatan yang tidak mampu dikejar oleh birokrasi kampus.
Ancaman terbesar bagi Indonesia ke depan bukan lagi sekadar pengangguran biasa, melainkan lahirnya generasi “irrelevant graduates”, yakni kondisi di mana seseorang memegang ijazah formal, namun kompetensi yang mereka miliki sama sekali tidak dibutuhkan oleh industri.
Situasi ini menjadi sangat berisiko mengingat, Perkembangan teknologi AI yang eksponensial. Kemudian Biaya otomasi industri yang semakin murah.
Tidak lupa juga Penyusutan drastis pada pekerjaan kerah putih tingkat menengah (middle-skill jobs).
Dan Kebutuhan industri yang kini bergeser ke arah talenta multidisiplin.
“Masa Depan Pendidikan Adalah Hybrid Interdisciplinary”
Ke depan, sekat-sekat jurusan yang kaku diprediksi akan runtuh. Model pendidikan masa depan akan didominasi oleh program hibrida lintas disiplin (hybrid interdisciplinary programs).
Kompetensi tidak lagi berdiri tunggal, melainkan saling menganyam, seperti :
AI + Energi atau AI + Kesehatan.
AI + Pertanian atau AI + Psikologi,
Green Energy + Digital System,
Data Science + Public Policy.
Pada akhirnya, masa depan tidak akan lagi bertanya “Apa jurusanmu?”, melainkan “Seberapa mampu Anda mengintegrasikan teknologi, data, kreativitas, dan pemecahan masalah (problem solving) dalam satu kompetensi terpadu?”
Penutupan Program Studi di Perguruan Tinggi Bukanlah Tanda Kemunduran.
Kita harus mengubah cara pandang dalam melihat penutupan jurusan kuliah.
Langkah yang diambil China bukanlah tanda kemunduran, melainkan wujud keberanian dalam beradaptasi. Mempertahankan jurusan yang sudah usang demi romantisme masa lalu hanya akan memperpanjang antrean pengangguran terdidik dan membebani ekonomi negara.
Restrukturisasi agresif ini dilakukan agar universitas tetap berfungsi sebagai mesin penggerak zaman, bukan museum tempat menyimpan ilmu masa lalu.
Ketika AI dan robotika mengambil alih pekerjaan rutin, pertanyaan besarnya kini tinggal satu, “Sudahkah kurikulum pendidikan kita menyiapkan kompetensi yang tidak bisa digantikan oleh mesin?”
29.05.2026
-Hanurani-
Wasekjen DPP Partai HANURA.
(Red / Johnson)






