PENSIL PATAH, NYAWA MELAYANG, Tragedi Kemiskinan di NTT

Avatar photo

- Kontributor

Jumat, 6 Februari 2026 - 14:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto istimewa

Foto istimewa

NTT | PortalindonesiaNews.Net – Di saat para pejabat di Jakarta sibuk berdebat soal anggaran makan siang gratis bernilai triliunan, di sebuah sudut sunyi di Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang bocah SD memilih mengakhiri hidupnya. Alasannya?

Bukan karena cinta monyet, bukan karena gagal ujian. Ia menyerah karena malu tidak punya pensil dan buku.

Mari kita cerna ini perlahan.

Di Republik ini, sepotong kayu kecil berisi grafit seharga dua ribu rupiah telah menjadi penentu hidup dan mati seorang anak manusia.

Pendidikan yang Katanya Mencerdaskan, Ternyata Mematikan.

Kita sering membanggakan angka pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital, namun kita buta terhadap fakta bahwa di NTT, sekolah telah menjadi arena (perpeloncoan mental) bagi mereka yang miskin.

READ  Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi 24 Maret, Semarang Mulai Ditinggalkan Pemudik

Saat seorang siswa masuk kelas tanpa alat tulis, ia tidak hanya kehilangan kesempatan belajar, ia kehilangan harga diri.

Di hadapan kawan-kawannya, ia merasa telanjang. Di hadapan gurunya, ia merasa menjadi beban. Dan di hadapan negara? Ia hanyalah statistik yang tidak dianggap.

READ  Polsek Jeruklegi Gerak Cepat Tangani Pohon Tumbang di Jalur Jeruklegi–Wangon

Negara Absen, Masyarakat Buta

Ke mana perginya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)? Ke mana larinya janji-janji *keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia*?

READ  Demo Buruh Brebes: Teriak UMSK, Ketawa Tipis Lihat Angka

Tragedi ini membuktikan bahwa,

Kemiskinan bukan sekadar soal perut yang lapar, tapi soal mentalitas yang dihancurkan oleh rasa malu karena ketimpangan yang ekstrem.

Sistem pendidikan kita terlalu kaku. Sekolah lebih peduli pada atribut fisik (seragam, buku, alat tulis) daripada kesehatan mental dan aksesibilitas bagi mereka yang paling melarat.

READ  DPD HILLSI DIY Gelar Rakerda 2026: Sinergi dan Profesionalisme LPK Jadi Kunci Dorong Kualitas SDM

Empati kita sudah mati. Bagaimana mungkin seorang anak di lingkungan sekolah dan desa bisa memendam penderitaan sedalam itu tanpa ada satu pun orang dewasa yang menyadarinya?

Sebuah Tamparan bagi Nurani Bangsa

Kematian bocah ini adalah dosa kolektif.

Kita semua bersalah.

Kita bersalah karena membiarkan kemiskinan menjadi sangat absolut hingga seorang anak merasa kematian lebih terhormat daripada berangkat sekolah tanpa modal dua ribu perak.

READ  Kasus Viral Agus Palon Berimbas, Dugaan Oknum Polisi Disebut Lindungi DPO

Jika untuk urusan pensil saja negara gagal hadir, lantas untuk apa kita bicara tentang *Indonesia Emas 2045*? Yang ada hanyalah *Indonesia Cemas*, di mana anak-anak kita harus bertaruh nyawa hanya untuk bisa menulis satu huruf di atas kertas.

Jangan hanya kirim doa. Mulailah marah. Mulailah menuntut agar tidak ada lagi nyawa yang melayang hanya karena urusan alat tulis yang harganya tak lebih mahal dari biaya parkir mobil mewah para koruptor.

 

Dimana Hati Nurani kita ?

 

😭😭😭😭😭

 

03.02.2026

-Hanurani-

WaSekjen DPP Partai HANURA

😭Palembang menangis.

Berita Terkait

Danrem 073/Mkt Gelar Coffee Morning, Satukan Persepsi Tokoh Agama, Masyarakat, dan Akademisi Jaga Kamtibmas
ORONG-ORONG SERANG KEJARI: KASUS RP5,3 MILAR DIPULANGKAN, TAPI TINDAK PIDANA TAK BOLEH MATI!
Sidang Farhan Lie Disorot Keras: Praperadilan Dikesampingkan, Proses Hukum Dinilai Cacat Prinsip
Semarang Memanas! Investor BLN Serukan Keadilan Restoratif, Tolak Langkah Represif
MODUS INVESTASI WALET FIKTIF TERUNGKAP! Korban Rugi Rp78 Miliar, Pelaku Cuci Uang Lewat Skema Rekening Siluman
Sidang Praperadilan di Pengadilan Negeri Yogyakarta Menguatkan Dalil Pemohon, Tergugat Tertekan Jelang Putusan
Gebrakan Baru! AWPI Jateng Jadikan Halal Bihalal Momentum Kebangkitan Ekonomi dan Profesionalisme Pers
DUGAAN PENYALAHGUNAAN WEWENANG MENGUAT: PROSES HUKUM DINILAI “DIPERMAINKAN”, WARGA PANDEYAN SEWON GUGAT APARAT LEWAT PRA-PERADILAN  

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 20:35 WIB

Danrem 073/Mkt Gelar Coffee Morning, Satukan Persepsi Tokoh Agama, Masyarakat, dan Akademisi Jaga Kamtibmas

Kamis, 2 April 2026 - 16:05 WIB

ORONG-ORONG SERANG KEJARI: KASUS RP5,3 MILAR DIPULANGKAN, TAPI TINDAK PIDANA TAK BOLEH MATI!

Kamis, 2 April 2026 - 14:34 WIB

Sidang Farhan Lie Disorot Keras: Praperadilan Dikesampingkan, Proses Hukum Dinilai Cacat Prinsip

Kamis, 2 April 2026 - 08:38 WIB

Semarang Memanas! Investor BLN Serukan Keadilan Restoratif, Tolak Langkah Represif

Selasa, 31 Maret 2026 - 21:13 WIB

MODUS INVESTASI WALET FIKTIF TERUNGKAP! Korban Rugi Rp78 Miliar, Pelaku Cuci Uang Lewat Skema Rekening Siluman

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:58 WIB

Gebrakan Baru! AWPI Jateng Jadikan Halal Bihalal Momentum Kebangkitan Ekonomi dan Profesionalisme Pers

Minggu, 29 Maret 2026 - 07:54 WIB

DUGAAN PENYALAHGUNAAN WEWENANG MENGUAT: PROSES HUKUM DINILAI “DIPERMAINKAN”, WARGA PANDEYAN SEWON GUGAT APARAT LEWAT PRA-PERADILAN  

Rabu, 25 Maret 2026 - 17:17 WIB

Di Balik Dering 110 yang Tak Pernah Padam, Sosok Polwan Ini Jadi Harapan Warga

Berita Terbaru