PENSIL PATAH, NYAWA MELAYANG, Tragedi Kemiskinan di NTT

Avatar photo

- Kontributor

Jumat, 6 Februari 2026 - 14:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto istimewa

Foto istimewa

NTT | PortalindonesiaNews.Net – Di saat para pejabat di Jakarta sibuk berdebat soal anggaran makan siang gratis bernilai triliunan, di sebuah sudut sunyi di Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang bocah SD memilih mengakhiri hidupnya. Alasannya?

Bukan karena cinta monyet, bukan karena gagal ujian. Ia menyerah karena malu tidak punya pensil dan buku.

Mari kita cerna ini perlahan.

Di Republik ini, sepotong kayu kecil berisi grafit seharga dua ribu rupiah telah menjadi penentu hidup dan mati seorang anak manusia.

Pendidikan yang Katanya Mencerdaskan, Ternyata Mematikan.

Kita sering membanggakan angka pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital, namun kita buta terhadap fakta bahwa di NTT, sekolah telah menjadi arena (perpeloncoan mental) bagi mereka yang miskin.

READ  APRESIASI BERSYARAT! DPRD Baru Turun Cek Pabrik Tanpa Izin, PKP: "Selama Ini ke Mana Saja?"

Saat seorang siswa masuk kelas tanpa alat tulis, ia tidak hanya kehilangan kesempatan belajar, ia kehilangan harga diri.

Di hadapan kawan-kawannya, ia merasa telanjang. Di hadapan gurunya, ia merasa menjadi beban. Dan di hadapan negara? Ia hanyalah statistik yang tidak dianggap.

READ  Hakim Tegur Keras Diah: “Pinjam Rp60 Juta Dua Tahun Tak Bayar, Kok Anda yang Menggugat?” 

Negara Absen, Masyarakat Buta

Ke mana perginya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)? Ke mana larinya janji-janji *keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia*?

READ  Gelar Perayaan Spektakuler di SM Tower, Hanura DIY Siapkan Kejutan ‘Energi Baru’ Menuju Kemenangan 2029

Tragedi ini membuktikan bahwa,

Kemiskinan bukan sekadar soal perut yang lapar, tapi soal mentalitas yang dihancurkan oleh rasa malu karena ketimpangan yang ekstrem.

Sistem pendidikan kita terlalu kaku. Sekolah lebih peduli pada atribut fisik (seragam, buku, alat tulis) daripada kesehatan mental dan aksesibilitas bagi mereka yang paling melarat.

READ  Desakan Publik Menggema! Pengusaha Muda Blora Ditabrak Pengendara Diduga Mabuk, Pelaku Masih Bebas – Polisi Diminta Bertindak Tegas!

Empati kita sudah mati. Bagaimana mungkin seorang anak di lingkungan sekolah dan desa bisa memendam penderitaan sedalam itu tanpa ada satu pun orang dewasa yang menyadarinya?

Sebuah Tamparan bagi Nurani Bangsa

Kematian bocah ini adalah dosa kolektif.

Kita semua bersalah.

Kita bersalah karena membiarkan kemiskinan menjadi sangat absolut hingga seorang anak merasa kematian lebih terhormat daripada berangkat sekolah tanpa modal dua ribu perak.

READ  LCKI Hadiri Seminar MIGAS di Blora, Jawa Tengah – Dorong Peran Strategis Lembaga dalam Sektor Energi

Jika untuk urusan pensil saja negara gagal hadir, lantas untuk apa kita bicara tentang *Indonesia Emas 2045*? Yang ada hanyalah *Indonesia Cemas*, di mana anak-anak kita harus bertaruh nyawa hanya untuk bisa menulis satu huruf di atas kertas.

Jangan hanya kirim doa. Mulailah marah. Mulailah menuntut agar tidak ada lagi nyawa yang melayang hanya karena urusan alat tulis yang harganya tak lebih mahal dari biaya parkir mobil mewah para koruptor.

 

Dimana Hati Nurani kita ?

 

😭😭😭😭😭

 

03.02.2026

-Hanurani-

WaSekjen DPP Partai HANURA

😭Palembang menangis.

Berita Terkait

PSYFORTY 2026, Di Taman Indonesia Kaya, Berjalan Meriah dan Menghibur
Kunjungan Menteri Desa Dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ke Kecamatan Tuntang , Memberi Dampak Positif 
SIDANG TUNTUTAN KASUS MFL: JAKSA MINTA 1 TAHUN PENJARA, ADVOKAT KRITIK PROSEDUR DAN SISTEM TRANSFER
Kasus Dugaan Asusila di Anjani Spa Jogja Terus Bergulir, Saksi ES Kembali Diperiksa Polda DIY
TANPA BERITA ACARA, TANPA KEJELASAN: INNOVA REBORN DIAMANKAN POLRES CILACAP, PENGUSAHA RENTAL JADI KORBAN “TEBANG TANPA AKAR”  
Polsek Genuk Kawal Hangat Perjalanan Spiritual Bhikkhu Thudong, Wujud Harmoni dan Toleransi di Kota Semarang
Kapolrestabes Semarang Resmi Buka Event Kedua E-Sport Cup, Hadirkan Kompetisi dan Edukasi Kebangsaan
Pengusaha Karaoke Mengubah Gedung Angker Menjadi Ruang Produktif, Memberantas Kejahatan, Mengentaskan Pengangguran, Serta Menyumbang Pendapatan Asli Daerah Kota Semarang

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 19:41 WIB

PSYFORTY 2026, Di Taman Indonesia Kaya, Berjalan Meriah dan Menghibur

Senin, 25 Mei 2026 - 18:02 WIB

Kunjungan Menteri Desa Dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ke Kecamatan Tuntang , Memberi Dampak Positif 

Senin, 25 Mei 2026 - 17:14 WIB

SIDANG TUNTUTAN KASUS MFL: JAKSA MINTA 1 TAHUN PENJARA, ADVOKAT KRITIK PROSEDUR DAN SISTEM TRANSFER

Senin, 25 Mei 2026 - 16:24 WIB

Kasus Dugaan Asusila di Anjani Spa Jogja Terus Bergulir, Saksi ES Kembali Diperiksa Polda DIY

Senin, 25 Mei 2026 - 08:21 WIB

TANPA BERITA ACARA, TANPA KEJELASAN: INNOVA REBORN DIAMANKAN POLRES CILACAP, PENGUSAHA RENTAL JADI KORBAN “TEBANG TANPA AKAR”  

Senin, 25 Mei 2026 - 03:52 WIB

Kapolrestabes Semarang Resmi Buka Event Kedua E-Sport Cup, Hadirkan Kompetisi dan Edukasi Kebangsaan

Senin, 25 Mei 2026 - 03:29 WIB

Pengusaha Karaoke Mengubah Gedung Angker Menjadi Ruang Produktif, Memberantas Kejahatan, Mengentaskan Pengangguran, Serta Menyumbang Pendapatan Asli Daerah Kota Semarang

Senin, 25 Mei 2026 - 02:15 WIB

Kota Wali Demak Tercoreng: Judi Sabung Ayam dan Dadu Masih Bebas Beroperasi

Berita Terbaru