BLORA | PortalindonesiaNews.Net – Udara yang biasanya sejuk di Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kabupaten Blora, kini terasa penuh dengan keprihatinan dan misteri. Kawasan yang terletak di pinggiran hutan serta perbukitan Gunung Pencu kembali menjadi sorotan setelah dua kali kebakaran meluluhlantakkan sumur minyak ilegal – yang pertama menelan 5 nyawa, yang kedua menghanguskan lahan dan membuat warga terkejut kaget. 06/01/2026
Dua sumur yang terbakar itu tak punya izin resmi sama sekali. Terletak di kawasan yang bisa diakses hingga ke Plantungan di sisi barat, lokasinya yang luas dan jarang dilalui manusia membuatnya jadi lokasi “ideal” bagi para pelaku eksploitasi ilegal.
“Tempatnya jauh banget dari pemukiman, jalanannya juga cuma jalur tanah yang susah ditembus kalau bukan orang lokal,” cerita X, salah satu warga yang sering melihat aktivitas mencurigakan di sekitar lokasi.
Meskipun kebakaran kedua tidak menimbulkan korban jiwa, api yang membara itu telah memicu kekhawatiran mendalam. Mulai dari risiko bahaya yang terus mengancam hingga kerusakan lingkungan yang tak terkira besarnya. Aparat sudah segera turun tangan, melakukan penyelidikan dan mengingatkan warga agar tidak terlibat dalam aktivitas pengeboran ilegal yang jelas berbahaya.
Namun di balik sisi hukum dan teknis yang tengah diselidiki, suara dari masyarakat lokal mengangkat cerita yang sudah ada sejak dulu kala. Banyak warga yang yakin, kejadian ini bukan sekadar kebetulan – melainkan tandaan dari alam gaib yang menjaga wilayah Gunung Pencu.
“Alam Gendono bukan cuma tanah biasa aja, kita turun temurun tahu kalau di sini ada unsur gaib yang harus kita hormati,” ujar X dengan nada serius.
Konon, di sekitar kaki Gunung Pencu tersembunyi sebuah gua sarang burung lawet yang lokasinya hanya diketahui oleh Kamituwo Gandu – seorang tokoh masyarakat yang telah wafat pada 2019. Sejak beliau tiada, lokasi gua itu semakin menjadi misteri yang tak terpecahkan.
“Warga bilang gua itu dijaga oleh makhluk gaib. Bukan orang sembarangan bisa nemuin atau bahkan mendekatinya,” tambahnya.
Keyakinan ini semakin menguat karena keterkaitan wilayah Gendono dengan Manik Maninten Ngadipurwo – sebuah simbol pusaka dalam kepercayaan Jawa kuno yang diyakini sebagai penjaga keseimbangan alam di kawasan itu. “Kalau orang mau mengambil atau merusak alam sembarangan, tanpa izin lahir batin sama nenek moyang, pasti ada tandanya,” ujar X dengan suara pelan yang membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.
Tak hanya berdiam diri, tokoh masyarakat lokal juga turut memberikan arahan. Mereka mengimbau agar masyarakat tidak hanya terpaku pada sisi mistis, namun tetap mengutamakan keselamatan, taat pada hukum, dan menjaga kelestarian alam. Namun demikian, mereka juga mengajak semua pihak untuk menghormati kearifan lokal yang telah mengikat kehidupan masyarakat Gendono selama puluhan tahun.
Peristiwa ini seperti sebuah pelajaran yang keras – bahwa eksploitasi alam tanpa aturan tidak hanya akan menghadapi konsekuensi hukum, tapi juga bisa menyentuh nilai-nilai budaya dan keyakinan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.(Red)






