Akumulasi Kekecewaan Petani
Koordinator aksi Front Blora Selatan, Exy Wijaya, menyebut aksi tersebut lahir dari akumulasi kekecewaan rakyat kecil yang merasa terlalu lama diberi janji tanpa kepastian.
“Petani sudah berkali-kali diminta bersabar, tetapi yang diterima justru ketidakjelasan. Kami membawa tebu sebagai simbol jerih payah rakyat yang jangan sampai dipermainkan,” tegas Exy, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, petani tidak boleh terus menjadi pihak yang paling dirugikan setiap kali industri gula mengalami persoalan.
“Yang bekerja di sawah rakyat, yang menanggung dampaknya juga rakyat. Jangan sampai petani hanya dijadikan penyangga ketika industri sedang bermasalah,” lanjutnya.

Dampak Menyentuh Kebutuhan Dasar
Nada serupa disampaikan Koordinator Paguyuban Petani Tebu Blora, Anton Sudibyo. Ia menilai persoalan industri gula kini telah menyentuh kebutuhan dasar masyarakat desa.
“Dari hasil tebu, petani membiayai sekolah anak, memenuhi kebutuhan rumah tangga, hingga menghidupi pekerja sektor tebang dan angkut. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya akan sangat luas,” ujarnya.
Anton bahkan meminta pemerintah pusat serta Komisi IV dan Komisi VI DPR RI turun langsung ke Blora agar melihat sendiri kondisi petani di lapangan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






