Sifat Optimistis Kepada TUHAN
Apa sebabnya orang enggan berkurban dan berjerih payah, serta tidak menempuh kesulitan sementara, dan menunda kesenangan sesaat?
Memang biasanya orang ingin hidup egois, hidup untuk diri sendiri dan kesenangan sendiri. Akibatnya ketika ia menerima kesulitan, kesusahan, percobaan, dan persoalan, ia mengira bahwa hanya ia sendirilah yang sedang dirundung kemalangan itu. Justru jika diterima dengan sabar dan tabah, kesulitan adalah bumbu hidup.
Berusaha dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras adalah hakekat hidup bermakna.
Sementara itu pengorbanan adalah tuntunan perjuangan yang tak terelakkan. Keduanya harus diiringi dengan sikap yang lapang dada, sabar, dan tahan menderita. Hanya pandangan hidup serupa itulah yang akan memberikan kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati.

Itulah semangat pengorbanan IBRAHIM yang pasrah hendak mengorbankan anaknya, ISMAIL itukah pula semangat ISMAIL, yang pasrah menyerahkan dirinya untuk dikorbankan. Keduanya menjadi contoh bagi kita semua tentang bagaimana ketulusan berkurban serta melawan godaan hidup senang sesaat, karena hendak mencapai hidup bahagia abadi.
Itulah ruh yang terkandung dalam ajaran berkurban. Dengan semangat pengorbanan yang tinggi kita mendekatkan diri kepada Allah, dan dengan ridha-Nya kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati dan abadi.
Marilah momentum ‘𝘐𝘥𝘶𝘭 𝘈𝘥𝘩𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘺𝘯𝘯𝘢𝘵𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳-𝘕𝘺𝘢’.
(Budi Semawis)
###






