Tantangan Besar Kementerian Pertanian dalam Cetak Sawah 150 Ribu Hektar di Dadahup: Bisakah Berhasil?

- Kontributor

Kamis, 3 Oktober 2024 - 08:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto istimewa Dok/Pin

Oleh: Tonny Saritua Purba, SP.                                                                  Pengamat Politik Pertanian.                                                                  Menjelang pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia pada 20 Oktober 2024, Kementerian Pertanian tengah menyusun rencana besar yang ambisius—mencetak sawah seluas 150 ribu hektar di Dadahup, Kapuas, Kalimantan Tengah. Proyek ini menjadi bagian dari upaya besar untuk memperkuat swasembada pangan nasional dan mendukung cita-cita menjadikan Indonesia sebagai salah satu lumbung pangan dunia.

Namun, rencana besar ini datang dengan tantangan yang tak bisa dianggap remeh. Dadahup, yang dulunya merupakan bagian dari proyek 1 juta hektar pengembangan lahan gambut di era Presiden Soeharto, dikenal memiliki kondisi tanah yang sulit diolah. Pada periode 2014-2018, program serupa berhasil mencetak 215.811 hektar sawah, tetapi tren ini mengalami penurunan signifikan di tahun-tahun berikutnya.

READ  Pangkat Baru, Semangat Baru: Penghormatan bagi Prajurit di Kodim 0724/Boyolali

Di tahun 2015, Kementerian Pertanian mencatat sukses cetak sawah seluas 20.070 hektar, yang melonjak ke 129.096 hektar pada 2016. Namun, tantangan di lapangan menurunkan capaian menjadi hanya 60.243 hektar pada 2017 dan bahkan lebih rendah lagi di 2018, dengan pencapaian hanya 6.402 hektar. Pertanyaan besarnya adalah, apakah target baru yang lebih besar ini realistis?

“Menaklukkan Lahan Gambut: Ujian Berat Menuju 150 Ribu Hektar”. 

Meskipun ada optimisme dari pihak pemerintah, berbagai kendala alam dan teknis mengintai di balik proyek ini. Dadahup, yang merupakan lahan gambut, bukanlah area ideal untuk pertanian padi. Dibutuhkan proses panjang untuk menyuburkan tanah ini, dan ancaman genangan air akibat pasang laut, curah hujan, serta luapan sungai kerap menghantui potensi produksi. Pembangunan infrastruktur drainase menjadi syarat mutlak untuk mengolah tanah ini secara produktif.

1. Tantangan Lahan Gambut:

Tanah gambut memiliki karakteristik yang tidak stabil untuk pertanian. Kondisi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diolah menjadi lahan produktif, dan meskipun telah ada lahan sawah sebelumnya di Dadahup, hasil panennya hanya berkisar 2-4 ton per hektar—jauh dari potensi optimal jika dibandingkan dengan lahan pertanian subur di tempat lain.

READ  KTT di Bali, 2 September 2024: Forum Internasional dengan Sebelas Negara

2. Infrastruktur yang Terbatas:

Keterbatasan akses bagi alat berat seperti excavator untuk mencetak sawah merupakan masalah signifikan. Faktor ini memperlambat proses pengerjaan dan mempersulit pencapaian target seluas 150 ribu hektar. Sinergi dengan Kementerian PUPR sangat diperlukan untuk membangun infrastruktur dasar yang memadai agar proyek ini dapat berjalan sesuai rencana.

3. SDM dan Teknik Budidaya:

Lahan gambut membutuhkan teknik budidaya yang berbeda dari lahan pertanian konvensional. Pemilihan varietas padi yang adaptif menjadi kunci keberhasilan, tetapi di sisi lain, peningkatan keterampilan para petani dalam mengelola lahan tersebut menjadi hal yang tak kalah penting. Pemerintah harus berinvestasi pada pelatihan dan pembinaan SDM petani untuk memastikan produktivitas yang optimal.

“Padi Gogo: Solusi Lahan Kering untuk Masa Depan Pangan Indonesia?”

Dengan melihat berbagai tantangan di lahan gambut, mungkin sudah saatnya pemerintah memikirkan alternatif kebijakan. Salah satu opsi yang patut dipertimbangkan adalah pengembangan padi gogo—varietas padi yang tumbuh di lahan kering dan hanya membutuhkan air hujan.

READ  Skandal Penahanan Ibu Menyusui: Polres Jakarta Pusat Diduga Langgar Konstitusi, Bayi 9 Bulan Jadi Korban

Lahan kering di Indonesia memiliki potensi yang sangat luas. Jika dikelola dengan baik, padi gogo bisa menjadi kunci swasembada pangan, bahkan mengurangi ketergantungan impor beras. Dengan potensi produksi 3 hingga 5 ton beras per hektar, kebijakan padi gogo bisa menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.

Pemerintah hanya perlu memastikan bahwa lahan yang dibuka untuk padi gogo tidak dialihkan atau dijual ke pihak lain, serta mendistribusikan benih unggul sebagai bentuk tanggung jawab negara kepada petani.

Apakah cetak sawah seluas 150 ribu hektar di Dadahup akan menjadi kenyataan atau hanya sekadar ambisi? Hanya waktu dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi tantangan lapangan yang akan menentukan jawabannya. Sementara itu, alternatif seperti padi gogo bisa menjadi jalan keluar yang tak hanya realistis, tetapi juga membawa Indonesia lebih dekat pada mimpi swasembada beras, (Red/Iskandar)

PT. Portal Indonesia News Grup

Berita Terkait

Polres Salatiga Gelar Latihan Kontinjensi, Tampilkan Kesiapsiagaan Hadapi Gangguan Kamtibmas di Hadapan Forkopimda
DIRGAHAYU KOPASSUS: “Jiwa Komando” Tak Pernah Pensiun, Pengabdian Terus Menyala
TANCAP GAS JELANG VERIFIKASI KPU! Hanura Jateng Konsolidasi Massal Sampai Tingkat Desa, Janji Hadirkan Politik Bersih & Pro Rakyat  
SKEMA BISNIS LKS TERBONGKAR! Lewat K3S Hingga Kepala Sekolah, Harga Naik 2x Lipat—TERNYATA MELANGGAR UU!
GELAGAT NYELENEH DI MALAM HARI BERUJUNG KENA BATU! 200 TABUNG GAS “MELON” KETANGKEP POLISI, PELAKU BISA BAYAR DENDA SAMPAI JUAL TANAH
Teguran Hanya Kata-Kata, Tindakan Nol Besar: Dinas Pendidikan Semarang Terbongkar Ketidakseriusannya  
MAKAM KRAMAT DI BANTARAN SUNGAI: DPD IWOI Kota Semarang Ajukan Izin Bangun untuk Lestarikan Budaya dan Dorong Pariwisata
WALI KOTA KAWAL LANGSUNG! Exit Tol Pattimura Dibangun dengan Prinsip: Transparan, Berkelanjutan, dan Jelas Pro Rakyat!

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 03:20 WIB

Polres Salatiga Gelar Latihan Kontinjensi, Tampilkan Kesiapsiagaan Hadapi Gangguan Kamtibmas di Hadapan Forkopimda

Kamis, 23 April 2026 - 08:11 WIB

DIRGAHAYU KOPASSUS: “Jiwa Komando” Tak Pernah Pensiun, Pengabdian Terus Menyala

Rabu, 22 April 2026 - 18:21 WIB

TANCAP GAS JELANG VERIFIKASI KPU! Hanura Jateng Konsolidasi Massal Sampai Tingkat Desa, Janji Hadirkan Politik Bersih & Pro Rakyat  

Rabu, 22 April 2026 - 18:13 WIB

SKEMA BISNIS LKS TERBONGKAR! Lewat K3S Hingga Kepala Sekolah, Harga Naik 2x Lipat—TERNYATA MELANGGAR UU!

Rabu, 22 April 2026 - 08:15 WIB

Teguran Hanya Kata-Kata, Tindakan Nol Besar: Dinas Pendidikan Semarang Terbongkar Ketidakseriusannya  

Senin, 20 April 2026 - 13:57 WIB

MAKAM KRAMAT DI BANTARAN SUNGAI: DPD IWOI Kota Semarang Ajukan Izin Bangun untuk Lestarikan Budaya dan Dorong Pariwisata

Sabtu, 18 April 2026 - 21:46 WIB

WALI KOTA KAWAL LANGSUNG! Exit Tol Pattimura Dibangun dengan Prinsip: Transparan, Berkelanjutan, dan Jelas Pro Rakyat!

Sabtu, 18 April 2026 - 21:11 WIB

MERIAH TAK TERHINGGA! LOMBA KETRAMPILAN SIAGA (LKS) GUNUNG PATI DISEBUT PESTA KEBANGGAAN ANAK BANGSA  

Berita Terbaru