KAB. SEMARANG | PortalindonesiaNews.Net – SDN 1 Samirono resmi menjadi Laboratorium Toleransi Nyata setelah meresmikan Wihara Cetiya Putra Buddha Gemilang pada Senin (5/1/2026). Langkah ini menjadikannya sekolah dasar negeri pertama di Kabupaten Semarang yang memiliki fasilitas rumah ibadah lengkap (Masjid, Gereja, dan Wihara) di lingkungan sekolah.
Simbol Harmoni di Tangan Generasi Muda
Peresmian dipimpin langsung oleh YM Bhikkhu Sasana Bodhi Mahathera. Dalam prosesi serah terima kunci simbolis, Ita Sriutami, S.Ag., S.Pd. (wakil donatur utama Dr. Buntario Tigris, SH., SE., MH.) menyerahkan kunci wihara kepada Kepala SDN 1 Samirono, Widiastuti, S.Pd.SD. Acara disaksikan Kepala Desa Samirono Slamet Juriono serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Getasan.
Bukan Sekadar Bangunan, Tapi Warisan Karakter
Perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Semarang, Sutrisno, menyatakan bahwa hal ini merupakan “Sejarah Baru” bagi pendidikan Indonesia. “Ini bukan sekadar pembangunan fisik gedung. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kedamaian bangsa. Di sini, anak-anak tidak hanya belajar toleransi dari buku teks, tapi mereka melihat dan merasakannya setiap hari,” ujarnya.
Lahir dari Semangat Gotong Royong
Widiastuti mengungkapkan bahwa berdirinya Cetiya merupakan hasil sinergi antara donatur (keluarga Dr. Buntario Tigris dan Jason Tigris) serta kerja bakti masyarakat lintas agama. “Kami ingin gedung ini dimanfaatkan untuk KBM agama Buddha agar kualitas pembelajaran meningkat dan siswa tumbuh menjadi generasi unggul dengan empati tinggi terhadap perbedaan,” tuturnya.
Dukungan Publik dan Harapan Masa Depan
Slamet Juriono menegaskan Desa Samirono siap menjadi role model nasional dalam kerukunan. “Perbedaan keyakinan justru menjadi perekat sosial, bukan pemisah,” katanya. Dengan fasilitas ini, SDN 1 Samirono kini tidak hanya dikenal prestasi akademiknya, tetapi juga sebagai Ikon Kebhinekaan yang diharapkan menginspirasi sekolah lain untuk merawat persatuan sejak usia dini.
Laporan: iskandar






