SAMPANG – PortalindonesiaNews.Net – Aroma ketidakadilan kembali menyengat dari bumi Madura. Kasus percobaan pembunuhan berencana terhadap jurnalis Nuriman, Kepala Biro Tribuncakranews.com wilayah Sampang, kini menjadi simbol mandulnya penegakan hukum di daerah tersebut.
Meski telah berbulan-bulan berlalu sejak kejadian berdarah di Dusun Polai Timur, Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, satu dari dua tersangka utama — Daholi — yang sudah berstatus DPO justru masih bebas berkeliaran. Ironisnya, sumber warga menyebut DPO tersebut bahkan masih terlihat menghadiri acara kondangan di kampungnya, tanpa ada upaya penangkapan dari pihak kepolisian.
“Kami sering lihat sendiri, orang itu (Daholi) pulang ke rumah dan datang ke acara warga. Tapi polisi diam saja, seperti tidak tahu,” ungkap seorang warga yang enggan disebut namanya.
Kenyataan ini membuat publik geger dan geram. Pasalnya, korban bukan orang sembarangan — seorang wartawan yang nyaris tewas akibat sabetan clurit di leher dan tangan, hanya karena diduga memberitakan dugaan perselingkuhan pelaku.
Ketika Hukum Macet di Sampang
Data resmi kepolisian melalui laporan LP/B/3/VI/2025/SPKT/POLSEK SOKOBANAH/POLRES SAMPANG/POLDA JATIM mencatat bahwa dua orang telah ditetapkan sebagai tersangka:
Zeinuddin, telah ditangkap pada 18 Juni 2025 saat hendak menuju Surabaya, dan
Daholi, hingga kini masih berstatus DPO.
Namun anehnya, keberadaan Daholi yang sudah berkali-kali terlihat publik justru tidak juga ditindak. Sejumlah warga bahkan mengaku telah mengirimkan foto dan informasi keberadaan DPO ke aparat setempat, tapi tidak ada tindakan konkret hingga kini.
Sikap diam ini menimbulkan gelombang kritik terhadap Kapolres Sampang AKBP Hartono beserta jajarannya. Saat dihubungi redaksi Tribuncakranews.com untuk dimintai konfirmasi, Kapolres tidak memberikan respons, seolah bungkam menghadapi sorotan publik.
“Bagaimana masyarakat bisa percaya pada hukum, kalau DPO bisa bebas menghadiri hajatan, sementara korban masih menanggung luka dan trauma?” ujar salah satu aktivis hukum di Sampang.
Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah
Fenomena ini semakin menegaskan anggapan publik bahwa penegakan hukum di Sampang tumpul ke atas, tapi tajam ke bawah. Seorang DPO dengan identitas jelas dan lokasi yang diketahui, seharusnya menjadi prioritas penangkapan. Namun, kenyataannya justru dibiarkan begitu saja.
Kasus ini bukan hanya soal satu korban wartawan, melainkan ujian moral dan profesionalisme aparat penegak hukum di bawah kepemimpinan AKBP Hartono.
Apakah hukum hanya tegas pada rakyat kecil, namun lemah ketika berhadapan dengan mereka yang punya koneksi dan pengaruh?
Korban Masih Menanti Keadilan
Korban, Nuriman, hingga kini masih berjuang memulihkan diri dari luka fisik dan psikologis akibat pembacokan yang hampir merenggut nyawanya. Ia hanya meminta satu hal: keadilan yang nyata, bukan sekadar janji di atas kertas.
“Saya tidak minta belas kasihan, hanya keadilan. Kalau hukum bisa tegas kepada saya, seharusnya juga tegas kepada pelaku,” ujarnya dengan nada getir.
Publik Menanti Sikap Tegas Kapolres
Kini semua mata tertuju pada Kapolres Sampang dan jajarannya. Masyarakat menunggu tindakan nyata — bukan sekadar rilis dan alasan klasik “masih dalam pencarian.”
Karena di tengah maraknya kasus kekerasan terhadap jurnalis, pembiaran seperti ini bukan hanya bentuk kelalaian, tapi juga pengkhianatan terhadap rasa keadilan dan konstitusi negara.
Apakah Kapolres akan tetap bungkam, atau akhirnya berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu?
(Red/Time)






